Menari, Siasat Jaga Energi Seni (Tribun Jogja, 17 Mei 2020)

Ingin tetap berbagi energi positif dengan terus menari adalah yang dilakukan Mila Rosinta Totoatmojo. Penari dan koreografer muda yang membangun karir dari Yogyakarta ini terus aktif berkesenian selama pandemi ini terjadi.

Ajak Anak Menari Sejak Dini

Menari, Siasat Jaga Energi Seni
Beberapa tarian karya Mila Rosinta. Satu di antaranya berjudul Mother Earth, mengisahkan perjalanan hidup perempuan dari hamil hingga membesarkan anak.

Mengajak Kirana, putri sulungnya menari sejak dini dilakukan penari kelahiran Jakarta, 15 Mei 1989 ini. Mila sudah mengajak serta Kirana sejak berumur enam bulan, bahkan sejak dalam kandungan.

Hal ini semata-mata ingin mencari jawaban atas apa yang ia sering pertanyakan soal bagaimana kelangsungan berkarya penari seperti dirinya, ketika sudah hamil dan mulai membesarkan anak. Selain itu, ia juga ingin mengenalkan sejak dini kepada anaknya tentang olah rasa secara alamiah, namun tak memaksa.

“Sejak di dalam kandungan sudah aku ajak menari lewat karya Mother Earth. Aku mencari jawaban melalui karya-karyaku soal apa saja. Misalnya dari pertanyaaan apakah aku bisa berkarya maksimal setelah memiliki anak, aku akhirnya menemukan formula untuk terus berkarya dan aku tuangkan dalam karya-karyaku selanjutnya,” ungkap Mila.

Soal proses mengenalkan dunia seni tari kepada anaknya, Mila tak hanya mengajak langsung Kirana menari. Ia juga membuat jurnal perkembangan Kirana dari waktu ke waktu sebagai bahan penelitian untuk melihat bagaimana anaknya berkesenian.

“Aku sampai saat ini, terus melibatkan Kirana dalam aktivitas berkaryaku, tapi dengan catatan jangan sampai anaknya merasa terpaksa,” kata penari yang sudah menyabet beberapa dan terlibat di sejumlah perhelatan besar menari, misalnya ASEAN Youth Camp di Singapura dan Nitriam Art Festival Mumbay New Delhi ini.

Menari Lewat Jalur Daring

Menari, Siasat Jaga Energi Seni
Tarian karya Mila Rosinta lainnya berjudul A.S.A.P, refleksi dari perlahan hilangnya hutan sebagai paru-paru Indonesia.

Ingin tetap berbagi energi positif dengan terus menari adalah yang dilakukan Mila Rosinta Totoatmojo. Penari dan koreografer muda yang membangun karir dari Yogyakarta ini terus aktif berkesenian selama pandemi ini terjadi.

Menari melalui jalur daring sudah dilakukan Mila selama pandemi melanda. Ini ia lakukan semata-mata untuk menjaga semangat untuk dirinya untuk terus berkarya dan berbagi pengalaman kepada masyarakat yang mencintai seni.

Salah yang dilakukan Mila melalui media sosial adalah mengadakan challenge gerakan tarian yang ia ciptakan berjudul Anak Panah Srikandi. Tarian yang ia ciptakan tahun 2013 lalu ini menceritakan tokoh Srikandi yang semasa hidupnya berjuang melawan kebatilan.

Mila memberikan tutorial tari Anak Panah Srikandi ini dalam bentuk video klip yang ia unggah melalui akun Instagram pribadinya. Semua proses berkarya dan aktivitas berkesenian Mila selama pandemi ini hampir seluruhnya ia lakukan di Mila Art Dance School yang ia dirikan dua tahun lalu.

Di sini tempat serupa sanggar ini lah Mila banyak menghabiskan waktu untuk berkarya. “Melalui beberapa aktivitas dan program yang aku bikin selama pandemi ini setidaknya aku terus melakukan literasi menari meski keadaan saat ini sedang dalam masa sulit untuk melakukan aktivitas di luar rumah. Event-event kesenian dan budaya juga hampir tidak ada. Minimal dengan mengajak menari dari rumah, aku ingin menyebarkan energi positif untuk semua,” ungkap Mila.

Selain mengajak challenge menari, Mila melalui Mila Art Dance School juga mengadakan program bertajuk Kolaborasi Visual dan Sharing Perjalanan Tari. Pada program ini, Mila mengajak Rianto salah satu penari dan koreografer muda tanah air yang namanya belakangan moncer di kancah internasional.

Tak hanya itu, Mila juga mengadakan semacam talkshow dengan tema virtual jamming dance and acting. Kali ini ia mengajak serta Eka Nusa Pertiwi, seorang aktris muda Yogyakarta yang namanya mulai diperhitungkan sebagai pemain layar lebar baik di tanah air dan manca negara.

“Aku juga mengadakan sharing online dengan tema Ruang Kreatif dan Pergerakannya bersama Nia Agustina founder Paradance mini festival. Intinya aku mengajak semua pekerja kreatif lintas disiplin ilmu untuk berbagi pengalaman selama pandemi ini.”

Ungkap Mila. Rupanya Mila memang bisa dibilang sangat produktif selama pandemi ini. Hampir setiap dua pekan sekali ia membuat atau pun terlibat program berksenian secara daring. Belum lama ini, Mila juga didaulat menjadi salah satu bara sumber di sebuah program bertajuk Saweran online talk secara daring yang diinisiasi Indonesia Dance Network.

Baru baru ini Mila juga merespon lagu Sujiwo Tejo berjudul Utang Rasa. Ia membuat sebuah koreografer untuk menginterpretasikan lagu tersebut. Pada karya tersebut Mila menyampaikan pesan bahwa hidup sejatinya adalah mampir minum.

“Aku memvisualisasikan dengan gerakan menggunakan sebuah kendi sebagai sebuah simbol Urip mung mampir ngombe. Aku juga menari di atas meja makan, eksplorasi luar rumah dan lilin sebagai simbol kehidupan, melakukan perpindahan dari ruang ke ruang yang akhirnya meniup lilin tanda terbebas dari dunia. Sejatinya kita utang rasa kepada sesama yang tak bisa kita bayar dengan materi,” ungkap Mila. (yud)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *