Proses Belajar Siswa dan Siswi Mila Art Dance School di Metamorfosa 12

Metamorfosa adalah hasil dari sebuah proses kami mempelajari tari dalam waktu 1 semester, dimana disini kami tidak hanya mempelajari gerak semata namun juga mengajarkan tentang makna tari hingga filosofi tarinya, tata busana, tata rias mendengarkan iringan tari, eksplorasi lingkungan, hingga mempelajari bagaimana berekspresi di depan khalayak umum.

Dimasa pandemi ini kami terus berupaya untuk beradaptasi berkarya dengan mengedepankan protokol kesehatan, tidak membuat kerumunan dan mencari jalan keluar untuk terus dapat membuat karya tari dengan memutuskan membuat acara virtual dengan konsep pengambilan dance video pada tiap kelas dengan berbagai ruang yang berbeda sesuai dengan tema koreografi. Pada Metamorfosa 12 ini akan ada 17 kelas yang akan tampil dengan berbagai genre tari dan dengan berbagai umur dari anak, remaja hingga dewasa.

Acara ini adalah tradisi kami berbagi semangat dan cinta kami untuk tari. Setiap semester kami akan menampilkan hasil dari proses belajar kami kepada seluruh masyarakat. Kami berharap bahwa acara ini menciptakan ruang kreatif, ruang sharing, ruang bertemu yang bermanfaat bagi siswa dan masyarakat yang mengapresiasi.

Pementasan Hasil dari Proses Belajar Siswa dan Siswi Mila Art Dance School Hari Pertama
Pementasan Hasil dari Proses Belajar Siswa dan Siswi Mila Art Dance School Hari Kedua
Pementasan Hasil dari Proses Belajar Siswa dan Siswi Mila Art Dance School Hari Ketiga
Metamorfosa 12

TRIBUNJOGJA.COMMila Rosinta yang bekerjasama dengan puluhan seniman dari 3 seni yakni Tari, Musik dan Visual sukses memukau penonton yang hadir memadati gedung PKKH Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Selasa (13/3/2018) malam. Di hadapan ratusan penonton Mila dkk sukses membuat penonton terdiam menikmati dan menghayati alunan musik serta gerakan tari kontemporer yang dibawakan Mila dan tim.

Kesuksesan Pentas Mother Earth

Tarian kontemporer yang disajikan dalam pentas malam itu menyajikan sajian yang unik Mila menggabungkan tarian kontemporer dengan musik dan visual art berupa video mapping menggunakan alat bernama Kinect. Tentu tarian ini menjadi sajian berbeda dalam pentas seni pada umumnya.

Mengangkat tema Mother Earth, pertunjukkan ini sebagai representasi dari perjalanan seorang ibu dan anak. Keduanya tak bisa terpisahkan. Perjuangan seorang ibu, mulai dari mengandung hingga melahirkan dan mendidik anak menjadi sajian yang direpresentasikan dalam sebuah kendhi.

Kendhi menjadi personifikasi sebuah kehidupan di dalam rahim ibu yang melindungi kehidupan di dalamnya yakni proses seorang anak dari perut hingga lahir di dunia. “Melalui karya ini kami ingin mengajak berkolaborasi bersama penonton dan mengajak masyarakat luas bahwa memiliki anak bukanlah sebuah hambatan namun menjadi sebuah pelecut semangat dalam berkarya,” ucap Mila Rosinta, penggagas pentas Mother Earth serta penari dan koreografer selepas pentas kepada Tribunjogja.com.

Selain itu, Mother Earth juga mengandung makna bahwa ibu semua umat manusia yaitu ialah bumi, Ibu adalah rumah bagi anak-anaknya begitu juga dengan bumi yang menjadi rumah bagi semua umat manusia. Pesan tersirat yang secara nyata digambarkan melalui tarian kontemporer malam itu.

Mila Rosinta sebagai penggagas pertunjukkan seni ini menggandeng puluhan seniman dari latar belakang berbeda. Dia dibantu rekan-rekan penari serta koreografer dari Mila Art Dance, dibantu oleh fotografer Rio Pharaoh, Make Up Lia Pharaoh, Video oleh Yugo Risfriawan, kostum Manda Baskoro, pianis Gardika Gigih, Composer Andre, singer Luis Najib serta Vosual Art Kokok Saja.

“Saya dan teman mengucapkan terimaksih atas apresiasinya, karya ini aku persembahkan untuk seluruh ibu di dunia dan aku berterimakasih kepada tuhan dan alam yang sudah memberikan kita kehidupan dan pelajaran hidup,” lanjut Mila. (tribunjogja)

Jakarta – Mila Art Dance menjadi salah satu kelompok tari yang terpilih dalam ‘Ruang Kreatif: Seni Pertunjukan Indonesia’. Akhir pekan lalu, komunitas tari yang didirikan oleh Mila Rosinta Totoatmojo pada 2012 itu mementaskan karya tari bertajuk Lukah Gilo di Auditorium Galeri Indonesia Kaya (GIK).

Lukah Gilo atau ‘Lukoh Gilo’ terinspirasi dari sebuah tradisi di Riau tentang permainan mistis dengan menggunakan lukah. ‘Lukah’ adalah keranjang penangkap ikan dan mantra pemanggil arwah.

Lukah Gilo terletak pada gerakan lukah sebagai akibat masuknya makluk gaib yang telah diberi mantra oleh dukun. Permainan magis kerap dipentaskan sebagai hiburan di acara-acara besar pemerintahan hingga pernikahan. Tradisi itulah yang menginspirasi koreografer Duwi Novrianti untuk menciptakan tarian.

“Budaya tradisi dengan nuansa magis terus dipertahankan sebagai hiburan oleh masyarakat di Kabupaten Siak, Riau,” kata Mila Rosinta, dalam keterangan yang diterima, Senin (13/3/2017).

Lewat pementasan Lukoh Gilo, lanjut dia, dapat melestarikan budaya tradisi yang dikemas menjadi sesuatu yang ebrbeda tanpa meninggalkan esensi. “Kita harus terus menghormati keberadaan semua makluk di sekitar kita,” tambah Mila.

Diaransemen oleh komposer Muhammad Adnan Irfianto, nuansa mistis dan permainan menghibur hadir di pementasan kali ini. Para penari yang berpartisipasi adalah rma Indriyani, Rines Onyxi Tampubolon, Dea Agustina, Ahmad Susantri, Elan Fitra Dianto, dan Wahyu Kurnia.

Setelah Mila Art Dance, masih ada penampil lainnya dalam Ruang Kreatif yakni Regeneration Theatre, Kawung Art.Culture.Wisdom, Gaya Gayo, Semarang Magic Community, Logika Rasa, KitaPoleng, dan Solo Dance Studio.

CONTACT US